Bulan Desember dan Januari selalu identik dengan liburan sekolah sekaligus liburan akhir tahun. Bagi sebagian orang, liburan kerap diisi dengan mudik ke kampung halaman, menginap di hotel, atau mengunjungi kota lain yang jauh. Namun, bagi sebagian lainnya, liburan cukup dinikmati dengan santai, tanpa rencana dan anggaran yang besar. Sederhana saja.
Liburan sekolah kemarin, kami memutuskan untuk tidak bepergian jauh. Kami hanya berjalan-jalan di sekitar Bandung Raya saat tanggal merah atau akhir pekan. Salah satunya adalah kunjungan kami ke Museum Geologi yang berakhir di Lapangan Saparua. Seperti apa perjalanannya? Simak, ya!
Rencana ke Museum Geologi yang Gagal
Minggu, 4 Januari yang lalu, kami mengajak anak-anak ke Museum Geologi. Kami ingin memberikan edukasi sejarah dan melihat fosil purba yang ikonik itu. Tempat ini sebenarnya sudah lama ingin kami kunjungi, tapi selalu tertunda karena satu dan lain hal.
Kami berangkat dari rumah sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Jalanan menuju kota cukup lengang, hanya di beberapa titik yang agak padat. Sekitar pukul setengah sebelas, kami tiba di kawasan Museum Geologi. Saya memang lebih suka bepergian di hari Minggu karena lalu lintasnya tidak sepadat hari Sabtu.
Begitu sampai di depan gerbang, tampak antrean pengunjung yang mengular. Sepertinya banyak keluarga lain yang memiliki ide serupa untuk menjadikan museum ini sebagai destinasi wisata keluarga. Apalagi beberapa sekolah sudah masuk mulai tanggal 5 Januari 2026, jadi bagi beberapa orang, hari itu adalah hari terakhir liburan.
![]() |
| Antrian di teras Museum Geologi siang itu (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Melihat antrean yang begitu panjang, kami menjadi malas dan memutuskan untuk urung masuk ke Museum geologi. Saya lalu mengajak anak-anak untuk main ke Lapangan Gasibu saja, dan mereka setuju. Kami pun menyimpan rencana berkunjung ke Museum Geologi untuk lain waktu.
Sebelum menuju Lapangan Gasibu, saya membeli kue cubit dari penjual gerobakan yang ada di depan gerbang museum. Satu pack kue cubit berisi sekitar sepuluh buah dijual seharga Rp15.000. Agak sedikit mahal menurut saya, tapi masih wajar karena berada di area wisata. Suami juga membeli kopi keliling yang mangkal di samping penjual kue cubit, saya lupa apa merk kopinya, yang saya ingat hanya gerobaknya berwarna merah.
Menikmati Minggu Siang di Lapangan Gasibu
Dengan bekal kue cubit dan kopi di tangan, kami berjalan menuju Lapangan Gasibu melewati trotoar yang teduh karena rimbunnya pepohonan. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 300 meter. Kami tetap bersemangat meski rencana awal gagal, sementara si sulung sedikit mengantuk karena tadi sempat tertidur di mobil.
![]() |
| Suasana Gasibu siang itu (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Setibanya di Gasibu, kami duduk di area yang teduh sambil menikmati kue cubit yang tadi dibeli. Angin bertiup pelan, suasana pun tidak terlalu ramai karena hari sudah semakin siang. Biasanya lapangan ini ramai pada pagi hari, banyak warga Bandung maupun wisatawan yang berolahraga atau sekedar jalan-jalan santai.
Setelah si bungsu mulai bosan, kami pun beranjak untuk berjalan-jalan di sekitar lapangan. Kami melihat delman yang lewat di depan Gedung Sate, lari-lari kecil di track lari yang ikonik, lalu asyik bermain batu-batu di salah satu sudut lapangan. Satu hal yang tidak boleh terlewat tentu saja foto-foto. Hampir setiap sudut Gasibu terasa cantik untuk dijadikan latar.
![]() |
| Asyik bermain batu (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Makan Piza di Kafe Kebon
Menjelang tengah hari, perut yang mulai keroncongan membawa kami mencari tempat makan di sekitar Gasibu. Setelah browsing sebentar, saya menemukan sebuah tempat bernama Kafe Kebon, yang menu andalannya adalah piza. Dari namanya, saya membayangkan tempat ini berada di tengah taman luas atau kebun hijau yang asri.
Ternyata, realitanya sedikit berbeda dari ekspektasi. Kafe ini lebih cenderung memanfaatkan area halaman dan teras rumah yang ditata sedemikian rupa. Di halaman berdiri semacam pendopo yang berfungsi sebagai area makan sekaligus area memasak. Meski tidak seperti yang dibayangkan, suasananya cukup tenang dan nyaman untuk makan siang.
Siang itu kami memesan dua piza, satu tuna pizza dan satu pizza cheese. Untuk minum, kami memesan dua es teh manis. Karena mereka tidak menjual air mineral, saya pun tidak memesan minuman dan mengeluarkan botol minum dari dalam tas. Selain piza mereka juga menjual banyak makanan lainnya seperti nasi goreng, nasi bakar, spageti, yamien dan lain sebagainya. Untuk minuman juga bermacam-macam. Ada aneka kopi, non kopi dan jus.
![]() |
| Kiri ke kanan: tuna pizza, es teh manis, cheese pizza (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Sekitar lima belas menit kemudian, piza sudah dihidangkan di meja, menyusul minuman yang sudah lebih dulu datang. Ukuran pizanya cukup besar dan rasanya lumayan enak. Meski menurut saya saus pizanya agak sedikit manis, kami tetap makan dengan lahap. Lapar, cuy! Anak-anak dan suami sih tidak ada komentar apa-apa. Kata mereka enak saja semuanya.
Setelah perut cukup kenyang, kami bergantian salat. Di area belakang, dekat dapur, tersedia toilet, tempat wudu, dan musala yang cukup luas. Disediakan juga mukena, sarung, dan sajadah. Sayangnya, area laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan, baik untuk toilet, tempat wudu, maupun musalanya.
Usai salat, kami menghabiskan sisa makanan dan minuman, lalu melakukan pembayaran di kasir. Siang itu total yang kami bayarkan sebesar Rp202.100. Pembayaran bisa dilakukan secara tunai maupun melalui QRIS.
Mencari Graphic T-Shirt di UNIQLO Heritage
Setelah makan siang, kami menuju Jalan L.L.R.E. Martadinata, atau lebih dikenal dengan Jalan Riau. Tujuan kami adalah ke UNIQLO untuk mencari graphic T-shirt. Begitu sampai, saya langsung terkesan dengan bangunannya yang menggabungkan nuansa modern dan heritage. Terkesan mewah sekaligus elegan.
![]() |
| UNIQLO Heritage (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Air mancur dan kolam ikan yang menyambut sebelum pintu masuk menghadirkan kesejukan di tengah cuaca Bandung yang sedang terik. Si bungsu pun langsung tertarik melihat ikan koi yang berenang ke sana kemari, bahkan sempat menolak ketika diajak masuk ke dalam toko.
Begitu berada di dalam, suasananya tidak jauh berbeda dengan cabang lainnya, modern dan rapi. UNIQLO menempati dua lantai bangunan, sementara lantai di atasnya memiliki fungsi lain, salah satunya Wheels Coffee Roasters yang berada tepat di atas toko.
Kami berkeliling dari lantai satu hingga lantai dua. Ternyata barang yang kami cari berada di lantai dua. Ada beberapa yang menarik perhatian, tetapi sayangnya model yang cocok tidak tersedia dalam ukuran yang kami butuhkan. Akhirnya, kami keluar tanpa membawa apa pun.
Bingung mau kemana lagi, kami pun mencoba mampir Heritage Factory Outlet yang berada di sebelahnya. Sebenarnya, factory outlet dan UNIQLO ini saling terhubung di bagian dalam, meskipun masing-masing punya pintu masuk sendiri.
![]() |
| Heritage Factory Outlet (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Heritage Factory Outlet ini terasa jauh berubah dibandingkan terakhir kali saya ke sana pada tahun 2016. Entah mengapa, auranya sudah tidak semewah dulu. Pencahayaannya redup dan display-nya pun terlihat kurang rapi, terutama di bagian dalam. Padahal dulu factory outlet ini termasuk salah satu yang cukup terkenal dan ramai pengunjung. Mungkin masa kejayaan factory outlet di Bandung memang sudah mulai pudar.
Berburu Minuman Segar dan Jalan-Jalan di Lapangan Saparua
Setelah keluar dari Heritage Factory Outlet, cuaca semakin terasa panas. Kami belum ingin langsung pulang, jadi saya mengajak suami dan anak-anak mencari minuman segar. Kami berjalan mengikuti ke mana kaki melangkah hingga akhirnya menemukan gerai Avotime di depan Jumbo Eatery. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengajak ke sana.
Ternyata tempatnya hanya berupa stand kecil, sehingga tidak menyediakan area untuk minum di tempat. Karena saya sudah malas mencari tempat lain, akhirnya kami memesan Avocado Original (jus alpukat) untuk si sulung, serta Avocado Teler (es teler) untuk saya dan si bungsu. Suami tidak memesan apa pun, katanya minta sedikit saja nanti.
![]() |
| Avotime pesanan kami (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Setelah mendapatkan pesanan, saya sempat bingung harus menikmati minuman ini di mana. Suami lalu mengusulkan untuk menuju Lapangan Saparua. Karena saya belum pernah ke sana dan jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 350 meter, akhirnya saya setuju.
Berbekal minuman, kami berjalan kaki menuju Lapangan Saparua. Sesampainya di sana, kami memilih duduk santai di bawah pohon yang rindang sambil menikmati Avotime, enak dan segar. Sambil mengamati sekitar, saya baru sadar kalau di area lapangan ini terdapat banyak penjual minuman dan jajanan. Otak saya langsung berpikir, “Harusnya tadi langsung saja ke sini. Lebih dekat dari Heritage.”
![]() |
| Lapangan Saparua sore itu (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Setelah minuman habis, kami turun ke area lapangan untuk melihat anak-anak yang sedang latihan sepatu roda. Si bungsu pun kembali lari-larian dengan riang di area terbuka ini, sungguh tidak ada capeknya. Setelah memutari lapangan dan kembali ke tempat duduk kami tadi, kami pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah menjelang sore.
Penutup: Hari yang Sederhana tapi Berkesan
Kami tiba di rumah sekitar pukul 4 sore dan langsung istirahat. Malamnya, kami menutup hari dengan memesan nasi goreng dan mi goreng dari tempat langganan di dekat rumah. Rasanya enak dan porsinya jumbo. Setelah hari yang cukup melelahkan, kami semua makan dengan lahap.
Liburan kali ini memang tidak mewah. Tidak ada staycation atau perjalanan jauh, tapi hari ini tetap menjadi hari yang berkesan. City tour di kota sendiri ternyata tak kalah menyenangkan, meskipun ada tujuan dan tidak terealisasi.
Salah satu tips liburan dari saya adalah berani mengubah rencana ketika ada satu dan lain hal yang tidak sesuai harapan. Saat liburan, tidak semua rencana harus berjalan mulus. Terkadang, membatalkan satu tujuan justru membuka ruang untuk pengalaman lain yang tak kalah menyenangkan.
Sampai jumpa di cerita perjalanan saya berikutnya!
Bandung, 9 Februari 2026
Pukul 09.00 WIB









