Menikmati Festival Kuliner Tempoe Doeloe di Summarecon Mall Bandung
My Journey Monday, August 31, 2026Sudah lama rasanya kami tidak jalan-jalan ke festival kuliner. Jadi ketika kakak ipar mengajak ke Festival Kuliner Bandung di Summarecon Mall Bandung pada tanggal 30 Agustus 2026, kami pun memutuskan untuk ikut. Apalagi acaranya mengusung tema Bandung Tempoe Doeloe, jadi lumayan penasaran juga ingin melihat seperti apa suasananya.
Kami berangkat dari rumah sekitar pukul setengah sebelas pagi. Kali ini kami mencoba rute yang belum pernah kami gunakan sebelumnya. Dari rumah, kami masuk melalui Tol Buah Batu, kemudian langsung menuju akses tol Summarecon.
Biasanya kalau pergi ke Summarecon Mall Bandung, kami lewat jalur non-tol. Jadi ini pertama kalinya kami mencoba rute tersebut. Ternyata cukup praktis juga karena kami bisa langsung menuju kawasan Summarecon tanpa harus melewati jalanan Kota Bandung. Waktu tempuhnya juga lebih cepat karena bebas macet.
Sesampainya di sana, kami langsung mencari area festival kuliner. Karena belum tahu persis lokasinya, kami sempat bertanya kepada petugas keamanan. Setelah mendapat petunjuk, kami pun langsung meluncur ke area festival.
Seperti apa cerita kami di acara Festival Kuliner Bandung bertajuk Bandung Tempoe Doeloe itu? Yuk, baca sampai selesai.
Keliling Festival Kuliner Bandung
Sebelum membeli makanan, kami berkeliling terlebih dahulu melihat-lihat gerai yang ada. Festival seperti ini memang paling enak kalau tidak langsung membeli makanan begitu datang. Muter dulu, lihat-lihat pilihan, baru menentukan mau makan apa.
Apalagi kalau membawa anak-anak, dengan pilihan sebanyak ini, biarkan mereka memilih lebih dulu. Di festival ini ada makanan berat, camilan, minuman, sampai berbagai jajanan yang sebagian besar memang Bandung banget, seperti cimol, bola ubi, batagor, dan lain sebagainya.
Setelah berkeliling, si sulung mulai menentukan pilihan setelah melihat penjual ayam sambal ijo. Sayangnya saya tidak terlalu ingat nama gerainya. Harganya Rp25.000 untuk satu porsi dan kami diminta menunggu kurang lebih 20 menit.
Sementara menunggu ayam matang, kami mencari camilan. Kali ini si sulung melihat ice cream rolls dan langsung ingin mencoba. Pilihannya jatuh pada rasa cream and cookies dengan harga Rp35.000.
Masalahnya, antreannya lumayan panjang. Dan tentu saja, mengantre di area terbuka saat siang bolong itu panaasss…
Kami pun harus sabar menunggu sekitar 20 menit sampai es krim pesanan kami selesai dibuat. Setelah itu, saya mengantar si sulung kembali ke tempat papanya duduk. Ternyata di sana ada Uwa bersama anak dan cucunya. Senang rasanya bisa bertemu dan mengobrol sejenak.
Setelah mengobrol beberapa saat, saya pergi sejenak untuk mengambil ayam pesanan si sulung dan melihat-lihat makanan apa yang bisa saya pesan untuk diri sendiri. Sempat tertarik dengan lomie karena sudah lama tidak makan menu itu. Namun, setelah melihat porsinya yang menurut saya cukup sedikit untuk harga yang ditawarkan, akhirnya saya mengurungkan niat.
Usai mengambil ayam, saya kembali ke tempat duduk dan giliran suami yang berkeliling mencari makanan. Begitulah kalau jalan-jalan bersama anak di tempat seperti ini. Satu orang jaga anak, satu orang antre makanan. Kalau sudah selesai, gantian.
Akhirnya suami membeli cuanki sambal ijo, yang kalau tidak salah harganya sekitar Rp30.000. Setelah itu dia menikmati makanannya bersama si sulung. Sementara itu saya masih bingung mau makan apa.
Tak lama kemudian, si bungsu meminta kentang goreng. Kebetulan di dekat tempat kami duduk ada gerai yang menjual hotdog. Saya pun sekalian membeli hotdog dan kentang goreng dengan harga sekitar Rp45.000.
Masuk Mall untuk Salat dan Istirahat
Setelah semua makanan habis, kami pamit kepada Uwa untuk beranjak lebih dulu. Kami berencana masuk ke dalam mall untuk salat zuhur sekaligus menunggu kakak ipar dan keponakan. Memang dari awal kami sudah janjian akan bertemu di Summarecon.
Sebelum salat, kami sempat mampir ke Miniso. Niatnya cuma cuci mata, melihat barang-barang lucu yang ada di sana. Tapi tentu saja anak-anak punya agenda sendiri.
Mereka malah tertarik bermain block plastik. Ya sudah, akhirnya kami biarkan mereka bermain sebentar, sembari saya dan suami bergantian berkeliling untuk melihat-lihat.
Setelah anak-anak puas bermain, kami naik ke lantai dua untuk salat. Kebetulan saya tidak salat, jadi saya menunggu bersama si bungsu di Toys City. Ada track Hot Wheels yang bisa digunakan secara gratis di sana. Si bungsu pun langsung betah bermain.
Begitu suami dan si sulung selesai salat, kami turun lagi untuk mencari kopi. Kami berkeliling mencari gerai Fore. Setelah ketemu, kami langsung masuk memesan satu cafe latte seharga Rp29.000.
Kursi di Fore penuh, padahal kami masih harus menunggu antrian sekitar lima belas menit. Agar anak-anak tidak bosan dan mengganggu sirkulasi pengunjung lain, saya mengajak mereka membeli donat di J.CO. Kami membeli tiga buah donat dengan harga Rp33.000.
Sayangnya, tempat duduk di dalam J.CO juga penuh. Kami keluar dan mencari tempat duduk di area outdoor. Ternyata, di luar juga sama saja. Akhirnya kami dapat duduk di tepian kolam ikan.
Sambil menikmati kopi dan donat, kami mengobrol sejenak ditemani ikan yang berenang ke sana kemari. Apalagi di area ini banyak tanaman, jadi terasa lebih teduh.
Setelah donat dan kopi habis, kami mendapat kabar dari kakak ipar bahwa mereka sudah berada di area festival kuliner. Kami pun kembali ke festival untuk bertemu mereka.
Jajan Lagi untuk Camilan Sore
Begitu sampai di festival dan bertemu keluarga kakak ipar, hal pertama yang saya cari bukan makanan, tapi air minum. Haus sekali rasanya. Dua botol air yang kami bawa dari rumah sudah habis. Akhirnya saya membeli air mineral lagi.
Setelah rasa haus teratasi, ternyata muncul masalah berikutnya. Si sulung merasa lapar lagi. Akhirnya saya dan si sulung kembali berkeliling mencari makanan.
Kalau saya sebenarnya sudah tahu ingin membeli apa. Dari tadi siang saya sudah mengincar Leker Gajahan, jadi kali ini tinggal mencari gerainya.
Sambil berjalan ke arah gerai leker, Si sulung melihat gerai Chizzin Pizza dan dia pun memutuskan untuk membeli itu saja. Saya pun memesan satu pizza varian original cheese dengan harga Rp25.000.
Sembari menunggu pizzanya dibuat, si sulung menemani saya membeli leker. Karena beberapa varian sudah tersedia, saya memilih yang sudah jadi saja supaya tidak perlu menunggu terlalu lama. Saya membeli leker pisang original, pisang cokelat, dan pisang keju.
Minimal pembelian leker adalah lima buah. Harga leker yang saya pilih kalau tidak salah mulai dari Rp9.800 sampai Rp11.000 per buah. Ada banyak pilihan rasa lainnya, tetapi beberapa harus menunggu dibuat dan harganya sepertinya juga sedikit lebih mahal.
Setelah leker didapat dan pizza si sulung selesai, kami kembali ke tempat duduk untuk menikmati camilan sore bersama-sama.
Rencana Sewa Sepeda yang Batal
Sambil makan dan mengobrol, kami berencana merealisasikan keinginan untuk menyewa sepeda di Taman Sumringah Summarecon Bandung. Si sulung dan keponakan tertua langsung bersemangat.
Para laki-laki pun salat asar terlebih dahulu sebelum kami menuju taman. Sementara itu, saya dan kakak ipar yang sama-sama sedang berhalangan meneruskan obrolan sambil menjaga kedua bungsu kami.
Sambil menunggu, saya dan kakak ipar mengecek jadwal sewa sepeda. Ternyata waktunya cukup mepet. Kalau tidak salah, layanan sewanya hanya sampai pukul 17.00 WIB. Kami tidak yakin apakah itu batas terakhir menyewa atau sepeda sudah harus dikembalikan.
Tak lama kemudian, para laki-laki kembali dari salat. Namun, waktu sudah lewat pukul empat sore. Artinya, kalau kami tetap memaksakan pergi ke taman, waktu yang tersisa tidak akan banyak. Daripada buru-buru dan akhirnya tidak bisa menikmati, kami pun memutuskan membatalkan rencana tersebut dan menggantinya di lain hari.
Kami pun kembali mengobrol. Sampai akhirnya sekitar pukul lima sore, saya sekeluarga pamit pulang lebih dulu. Si bungsu sudah mulai rewel dan tidak kondusif untuk berada di tempat umum lagi.
Festival Kuliner dan Keuangan Keluarga
Kalau dihitung-hitung, ternyata lumayan juga uang yang keluar hari itu. Kalau untuk belanja bahan mentah, setidaknya bisa untuk makan satu minggu hehehe…
Di sinilah saya merasa bahwa mengatur keuangan keluarga memang penting. Harus ada anggaran tersendiri untuk hiburan agar tidak mengganggu pos pengeluaran lainnya. Selain itu harus pintar memilah hiburan apa yang dipilih agar sesuai budget.
Untuk festival kuliner seperti ini, harganya memang cenderung lebih mahal dibandingkan makan di dalam mall atau membeli makanan langsung di toko/restoran aslinya. Apalagi beberapa makanan juga porsinya terasa cukup kecil untuk harga yang ditawarkan.
Misalnya saya sempat melihat lomie ayam yang dibanderol dengan harga Rp35.000 tapi porsinya hanya satu mangkuk cup kecil. Ada juga minuman seperti jeruk peras atau es cendol yang harganya sekitar tiga puluh ribuan. Kemudian air mineral ukuran 600 ml pun dijual dengan harga Rp9.000.
Sebagai perbandingan, harga air mineral di dalam mall, biasanya saya dapatkan dengan harga sekitar Rp5.000, sedangkan di minimarket tentu lebih murah lagi. Hahaha…
Memang sih, namanya juga festival. Ada biaya penyelenggaraan, sewa tempat, dan berbagai hal lainnya. Jadi wajar kalau harga makanan di festival tidak bisa disamakan begitu saja dengan harga makanan aslinya. Belum lagi di festival makanan seperti ini, kita bisa mencoba berbagai jenis makanan sekaligus hanya dari satu tempat.
Penutup: Seru, tapi Tidak Perlu Terlalu Sering
Bagaimanapun, hari itu menyenangkan, baik untuk saya, suami, maupun anak-anak. Kami senang bisa bermain, jajan, cuci mata, dan berkumpul dengan keluarga.
Buat saya, justru berkumpul bersama keluarga yang membuat kunjungan ke Festival Kuliner Bandung kali ini terasa berkesan.
Soal makanannya? lumayan, lha. Walaupun secara harga, jujur, agak overprice buat saya.
Hanya saja, kalau ditanya apakah saya ingin sering-sering datang ke festival kuliner seperti ini? Sepertinya tidak.
Dalam kondisi seperti sekarang, menjaga keuangan keluarga tetap penting seperti yang sering diingatkan oleh lifestyle blogger Madura. Jalan-jalan dan jajan boleh, menikmati waktu bersama keluarga di luar rumah juga boleh, tapi tetap perlu tahu batasnya.
In this economy, kalau ada yang lebih murah dan nyaman, buat apa bayar mahal. Ya, kan?
Kalau kalian penasaran ingin merasakan sendiri suasananya, Festival Kuliner Bandung ini masih berlangsung sampai tanggal 27 September 2026. Jadi, masih cukup banyak waktu untuk datang. Jangan lupa siapkan budget jajannya.










.png)








