Sejak punya anak, saya sudah tidak lagi menganggap pergantian tahun sebagai sesuatu yang istimewa. Tidak ada rencana apa pun, tidak ada agenda berkumpul dengan siapa pun, apalagi begadang menunggu detik-detik pergantian tahun. Tahun kemarin pun sama saja, kami memilih menghabiskan malam terakhir tahun 2025 di rumah saja dengan kegiatan yang sama dengan hari-hari biasa.
Anak-anak tetap tidur sebelum pukul sembilan malam. Saya menyusul sekitar pukul sepuluh, setelah menonton satu episode drama Korea. Me time sejenak di sela rutinitas mengurus rumah, membersamai anak-anak, jadi partner suami, dan belajar menjadi content writer. Saya bahkan tidak mendengar suara terompet atau riuh kembang api saat tengah malam. Entah memang lingkungan sekitar sedang sepi, atau saya yang terlalu pulas sampai tak mendengar apa pun. Yang jelas, pergantian tahun lewat begitu saja, nyaris tanpa terasa.
Pagi Pertama di Tahun Baru: Berkebun dan Merapikan Taman
Tanggal 1 Januari 2026 dimulai dengan cuaca yang sedikit mendung. Kami pun ragu-ragu untuk keluar rumah. Padahal pagi hari di awal tahun adalah saat yang cocok untuk berjalan-jalan. Biasanya lalu lintas sepi karena sebagian besar orang lebih memilih bangun siang atau istirahat di rumah setelah menikmati malam pergantian tahun. Tapi karena takut hujan, kami memutuskan di rumah saja dan memulai hari dengan berkebun.
Fokus utama pagi itu adalah merapikan taman depan rumah. Beberapa tanaman sudah terlihat perlu perhatian lebih. Ada yang potnya terasa terlalu sempit, ada yang tanahnya mulai keras, dan ada pula yang daunnya perlu dirapikan. Saya mulai dengan repotting pada beberapa tanaman, memindahkannya dari pot lama ke pot baru yang lebih besar, sambil mengganti dan menambah media tanam. Saya pun membongkar pot-pot kompos hasil olahan sendiri untuk digunakan sebagai campuran media tanam baru.
Baca juga: Tiga Puluh Delapan Tahun dan Segala Cerita yang Mengiringinya
Sementara saya sibuk dengan tanaman, suami memotong rumput yang sudah mulai tinggi, sedangkan si sulung dan si bungsu bermain bola di jalan depan rumah. Jalan depan memang sepi, tapi anak-anak tetap harus diawasi karena sesekali masih ada kendaraan yang lewat. Setelah suami selesai memotong rumput dan bergabung main bola dengan anak-anak, giliran saya merapikan sisa tanaman lain kemudian menyiramnya.
Berkebun dan beraktivitas di pagi hari memang menyenangkan. Apalagi cuaca mendung, jadi tidak ada panas menyengat. Melihat taman yang sudah lebih rapi dan anak-anak yang bermain dengan ceria, rasa syukur diam-diam menelisik. Ya Allah, terima kasih untuk awal tahun yang indah ini.
Makan Siang di Bebek Om Aris Buah Batu
Menjelang siang, cuaca sedikit lebih cerah. Saya pun mengajak suami dan anak-anak untuk makan siang di luar. Kebetulan saya sudah lama tidak makan bebek, jadi seusai salat Zuhur, kami berangkat menuju Bebek Om Aris Buah Batu. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, tidak sampai 10 menit sudah sampai. Apalagi jalanan lengang, tepat seperti dugaan saya. Jarang-jarang Jalan Terusan Buah Batu selancar itu. Biasanya macet terus!
Begitu sampai di lokasi, kami memesan dua paket menu. Yang pertama adalah Paket Romantis, terdiri dari satu ekor bebek ukuran medium, dua nasi putih, dan dua es teh manis. Paket kedua adalah paket ayam dada goreng, yang berisi satu potong ayam goreng, satu nasi putih, dan satu es teh manis. Kedua paket tersebut sudah termasuk sambal dan lalapan yang bisa ditambah sepuasnya. Selain itu saya juga menambah sepiring nasi putih untuk si bungsu.
Saat hendak memesan air mineral, ternyata stoknya sedang habis. Akhirnya, setelah memilih tempat duduk di lantai dua, saya keluar sebentar untuk membeli air mineral di minimarket terdekat. Sambil mengantre di kasir, saya sempat mengecek ponsel dan melihat unggahan status WhatsApp seorang kawan yang berprofesi sebagai SEO content writer. Di hari libur begini pun, dia terlihat masih sangat produktif berkarya.
![]() |
| Pesanan siang itu, minus nasi putih milik si bungsu (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Begitu kembali ke tempat makan, ternyata pesanan sudah dihidangkan. Si sulung bahkan sudah mulai lahap menyantap ayam dan nasi miliknya. Saya pun segera bergabung dan makan sambil menyuapi si bungsu. Dia sangat suka bagian kriuk dari bebeknya. Saya coba suapi bagian dagingnya pun dia mau. Tumben sekali, biasanya dia agak sulit makan protein hewani.
Rasa makanan di sini cukup memuaskan. Bebek gorengnya empuk, tidak alot, dan tidak berbau, dengan bagian luar yang sedikit renyah saat digigit. Bumbunya terasa pas, apalagi dipadu dengan timun, kemangi segar, dan sambal. Ada dua macam sambal yang disediakan: satu pedas sedang dan satu lagi lebih pedas.
![]() |
| Si sulung makan dengan lahap (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Ayam gorengnya pun tidak kalah enak. Dagingnya empuk, padahal bagian dada, dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Kami sekeluarga makan dengan lahap. Si sulung berkali-kali memuji rasa ayamnya, meskipun untuk bebek, dia kurang suka karena menurutnya teksturnya aneh. Akhirnya saya dan suami yang menghabiskan bebek itu. Duh, kolesterol!
Meski tempatnya tergolong sederhana, kualitas makanannya tidak mengecewakan. Apalagi harganya juga lumayan terjangkau. Untuk semua pesanan itu, saya membayar tidak sampai Rp150.000. Pasti saya akan kembali lagi ke sana suatu hari nanti.
Nyaris Kehabisan Ayam Panggang Superindo
Setelah makan siang, kami memutuskan untuk pergi ke Superindo. Tujuan utamanya adalah membeli ayam panggang untuk lauk makan malam. Jadi tidak perlu memasak lagi di rumah. Nasi juga masih ada sisa tadi pagi.
Begitu sampai, saya langsung menuju tempat ayam panggang. Namun, entah kenapa tiba-tiba saya berpikir untuk membelinya nanti saja sesaat sebelum pulang supaya tetap hangat. Saya dan si sulung pun melipir ke bagian yogurt dan buah. Untungnya, si bungsu mengajak suami tetap berada di dekat sana untuk melihat ikan yang bersebelahan dengan panggangan ayam.
Ternyata insting suami lebih kuat. Dia menyadari ayam panggangnya tinggal dua ekor saat mendengar seorang ibu bertanya pada petugas. Begitu ibu tersebut mengambil satu, suami segera mengamankan satu ekor sisanya untuk kami. Alhamdulillah masih kebagian.
![]() |
| Superindo siang itu (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Tanpa terasa, kurang lebih satu jam kami berkeliling di dalam Superindo dan keranjang belanja pun semakin penuh. Seperti yang sering terjadi, daftar belanjaan memang suka bertambah dari rencana awal. Tapi bagi saya tidak masalah, yang penting tujuan utama mendapatkan ayam panggang sudah terpenuhi, sisanya kami anggap bonus karena barang-barang tersebut memang tetap dibutuhkan untuk stok di rumah.
Begitu kami melangkah keluar dari Superindo, bau tanah basah mulai tercium dan gerimis tipis menyambut. Kami pun bergegas. Untungnya, jarak supermarket dan rumah cukup dekat. Kurang dari sepuluh menit kami sudah sampai di rumah lagi.
Saat kami semua sudah duduk santai di dalam rumah, hujan deras pun turun. Pengertian sekali hujannya. Akhirnya sisa hari itu kami habiskan dengan bersantai, dan ayam panggang dari Superindo pun sukses menjadi menu makan malam yang hangat.
Awal Tahun yang Tenang dan Penuh Rasa Syukur
Hari pertama di tahun 2026 berakhir dengan tenang. Tidak ada perjalanan jauh, tidak ada perayaan mewah. Namun, justru dari hal-hal sederhana itulah muncul rasa syukur yang mendalam.
Bisa tidur cukup, bangun dengan sehat, berkebun di pagi hari, makan enak, belanja kebutuhan dan menikmati quality time bersama keluarga adalah anugerah yang tak tergantikan. Mengawali tahun dengan ritme pelan seperti ini membuat saya berpikir bahwa hidup tidak harus selalu diisi dengan hal-hal besar untuk terasa berarti.
Bandung, 11 Januari 2026
Pukul 20.30 WIB
.png)











































