Perjalanan dari Bandung ke Malang untuk Berkumpul dengan Keluarga
My Journey Monday, October 12, 2026Liburan sekolah ke Malang pada akhir Juni hingga awal Juli kemarin terasa sedikit berbeda. Kali ini, saya tidak hanya pergi bersama suami dan anak-anak, tetapi juga mengajak Mama dan Papa mertua. Perjalanan yang sudah kami nantikan ini dimulai dari Stasiun Kiaracondong, Bandung, pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Mau tahu cerita perjalanan kami? Baca sampai selesai, ya!
Hari Pertama: Drama Kecil Sebelum Naik Kereta
Seperti biasa, kami berangkat ke Malang menggunakan kereta api, tepatnya Kereta Malabar dari Stasiun Kiaracondong. Bedanya, kali ini jadwal keberangkatan kami lebih malam daripada biasanya, yaitu pukul 18.25 WIB.
Siang harinya, saya, suami, dan anak-anak mampir terlebih dahulu ke rumah mertua untuk menjemput Mama dan Papa. Setelah salat Asar, kami pun berangkat bersama menuju stasiun.
Namun, ada kejadian yang lumayan bikin deg-degan sebelum boarding. Tas saya yang berisi dompet dan barang-barang penting lainnya ternyata tertinggal di taksi daring yang kami tumpangi!
Saya baru menyadari hal itu saat menunggu pemeriksaan tiket dibuka. Tanpa membuang waktu, saya langsung menghubungi pengemudi melalui aplikasi. Syukurlah, beliau belum mendapatkan penumpang lagi. Saya pun meminta beliau mengantarkan tas tersebut ke stasiun, tentu saja dengan memberikan imbalan atas bantuannya. Bagaimanapun, ini murni keteledoran saya sendiri.
Rasanya lega sekali ketika tas itu akhirnya kembali ke tangan saya. Bayangkan kalau saya baru menyadarinya saat jadwal keberangkatan sudah dekat, sementara pengemudinya ternyata sedang mengantar penumpang ke tempat yang jauh. Bisa-bisa perjalanan liburan kami kacau balau. Untunglah, drama kecil ini berakhir dengan baik sehingga tidak mempengaruhi mood perjalanan.
Setelah masuk ke ruang tunggu, anak-anak bermain terlebih dahulu di mini playground yang sekarang sudah tersedia di Stasiun Kiaracondong. Jadwal keberangkatan masih lama, jadi anak-anak masih punya cukup waktu untuk bermain. Kehadiran fasilitas ini lumayan membantu mengusir kebosanan anak-anak selama menunggu keberangkatan.
Begitu kereta datang, kami segera masuk dan mencari tempat duduk masing-masing. Barang bawaan kami kali ini sedikit lebih banyak daripada biasanya sehingga perjalanan terasa lebih repot. Mungkin lain kali saya perlu mengikuti tips dari salah satu teman blogger untuk mengirim pakaian langsung ke rumah Ibu beberapa hari sebelum keberangkatan. Dengan begitu, barang yang harus dibawa di kereta bisa lebih sedikit.
Setelah duduk, kami pun makan malam. Mama, Papa, dan suami membawa bekal dari rumah, sedangkan nasi dan ayam krispi untuk si sulung dan si bungsu saya beli di Yomart. Jadi, kali ini kami tidak perlu membeli makanan lagi di kereta.
Terus saya makan apa? Karena sejak siang sampai sore sudah cukup banyak ngemil di rumah Mama, saya belum begitu lapar. Saya pun berbagi makanan dengan si bungsu karena porsinya cukup besar dan tidak mungkin dia habiskan sendirian.
Oh ya, perjalanan kali ini merupakan pengalaman pertama kami naik Kereta Malabar kelas Ekonomi Premium sampai Malang. Sebelumnya, kami pernah menggunakan kelas yang sama untuk perjalanan pulang-pergi Bandung–Yogyakarta pada siang hari.
Ternyata, perjalanan siang dan malam rasanya tidak sama. Perjalanan malam dengan kursi di kelas ini cukup menguji kesabaran, terutama saat si bungsu mulai mengantuk dan ingin tidur dengan posisi rebahan. Tingkahnya yang ke sana kemari saat tidur membuat saya bingung mencari posisi duduk yang nyaman. Saya juga sungkan untuk sedikit merebahkan sandaran kursi.
Kenapa sungkan? Karena saat perjalanan Bandung–Yogyakarta sebelumnya, penumpang di belakang saya sempat memekik kaget ketika saya merebahkan sandaran kursi. Tentu saja saya langsung menegakkan kursinya kembali. Mungkin karena jarak antarkursi tidak terlalu lebar, ya.
Meski begitu, perjalanan tetap menyenangkan, kok. Apalagi saat matahari mulai terbit, pemandangannya begitu indah. Saya tidak henti-hentinya mengabadikan momen tersebut melalui foto dan video. Sayangnya, kamera ponsel saya tidak bisa menangkap keindahannya secara maksimal.
Apa saya harus ganti iPhone Burgundy? Hahaha, enggak, lah!
Hari Kedua: Tiba di Malang dan Bertemu Keluarga
Begitu tiba di Stasiun Malang, kami tidak langsung melanjutkan perjalanan ke rumah Ibu di Batu. Karena perut sudah lapar, kami memilih untuk makan terlebih dahulu. Seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, pilihan kami jatuh pada Rawon Tessy Malang. Maklum, sepagi itu pilihan tempat makan belum terlalu banyak.
Setelah mengisi perut, saya memesan taksi daring untuk mengantar kami ke rumah Ibu. Sesampainya di sana, kegiatan kami cukup santai. Kami membersihkan diri, beristirahat, menikmati camilan, dan melepas lelah setelah perjalanan panjang.
Mama dan Papa juga ikut menginap di rumah Ibu. Kebetulan, adik saya yang tengah sudah pindah ke kos sehingga kamarnya kosong dan bisa digunakan.
Siang harinya, suasana rumah semakin ramai karena kedatangan keluarga sepupu dari Bali. Senang rasanya bisa bertemu lagi setelah terakhir kali berjumpa pada 2024. Pertemuan seperti ini tentu terasa istimewa karena jarak Bandung–Bali tidak bisa dibilang dekat. Kesempatan untuk berkumpul pun tidak datang setiap saat.
Setelah keluarga sepupu pulang, kami berencana jalan-jalan ke Alun-Alun Batu pada sore harinya. Namun, Ibu tidak bisa ikut karena sedang sibuk mempersiapkan kegiatan warga untuk lomba desa yang akan berlangsung keesokan harinya. Saya sudah lupa apa saja jenis lomba yang akan diadakan, tetapi salah satunya adalah lomba membuat jenang suro. Adik saya juga tidak ikut. Kalau tidak salah ingat, katanya sedang ada pekerjaan.
Kami pun bersiap-siap untuk pergi. Namun, setelah semuanya berdandan rapi, rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena sampai lewat pukul lima sore kami tidak kunjung mendapatkan taksi daring. Daripada terus menunggu kendaraan yang tak kunjung didapatkan, akhirnya kami mengubah rencana dan memilih makan bakso di Bakso Anda Punten yang lokasinya tidak jauh dari rumah.
Suami, si sulung, Mama, dan Papa menuju kedai bakso lebih dulu. Sementara itu, saya mengantar si bungsu yang tertidur ke rumah Ibu, lalu meminta adik bungsu saya untuk menjaganya. Setelah memastikan si kecil aman dan nyaman, saya menyusul ke Bakso Anda Punten.
Setelah memilih bakso dan minuman, kami mencari tempat duduk. Kali ini, kami mencoba duduk di lantai atas. Ternyata, pemandangannya lumayan menarik. Dari tempat duduk, kami bisa melihat jalanan, rumah-rumah penduduk, serta gunung dan perbukitan di sekitarnya. Suasana Batu yang sejuk membuat waktu makan terasa lebih menyenangkan.
Sayangnya, saya sudah agak lupa minuman apa saja yang kami pesan saat itu. Yang jelas, semuanya terasa enak.
Namun, ada satu hal yang menurut saya menjadi kekurangan Bakso Anda Punten, yaitu kuahnya yang terasa kurang panas. Beberapa kali makan langsung di tempat, saya merasakan hal yang sama. Anehnya, kalau bakso dibawa pulang menggunakan wadah stainless milik Ibu, kuahnya justru tetap panas.
Apa panasnya lebih cepat hilang dari mangkuk karena udara dingin di Batu? Saya juga kurang tahu dan sepertinya agak kurang penting juga dibahas. Hehehe...
Penutup: Sederhana, tetapi Tetap Bermakna
Liburan kali ini memang bertema santai. Tujuan kami lebih untuk berkumpul dan menikmati kebersamaan bersama keluarga daripada mengejar banyak tempat wisata. Jadi, rencana mengunjungi Alun-Alun Batu yang gagal terlaksana bukanlah masalah besar. Kami masih bisa mencoba pergi ke sana keesokan harinya.
Sebagai travel blogger yang senang jalan-jalan, saya sudah terbiasa melakukan improvisasi terhadap itinerary. Namanya juga perjalanan, tidak semua rencana harus berjalan sesuai jadwal. Santai saja, nikmati perjalanan apa adanya!
Cerita perjalanan kami di Malang dan Batu masih akan berlanjut. Karena liburan kali ini berlangsung selama sembilan hari delapan malam, saya akan membaginya menjadi beberapa artikel agar setiap cerita bisa dinikmati dengan lebih nyaman.
Jadi, tunggu cerita perjalanan kami di hari berikutnya, ya!
.png)






