Halo, book lovers! Siapa di sini yang suka banget sama kisah romansa manis dengan latar luar negeri yang estetik? Kalau iya, berarti kamu wajib banget kenalan (atau nostalgia!) dengan mahakarya dari penulis romance ternama Indonesia, Ilana Tan.
Bagi pecinta novel romance Indonesia, nama Ilana Tan pasti sudah tidak asing lagi. Penulis misterius yang satu ini dikenal dengan gaya penceritaan yang lembut, hangat, namun tetap emosional. Tetralogi Empat Musim—Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London—menjadi karya yang paling banyak dikenang pembaca hingga bertahun-tahun lamanya.
Tetralogi 4 Musim ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Semua tokoh utama perempuan dalam tetralogi ini memiliki darah campuran Indonesia, sebuah sentuhan unik yang membuat kita merasa dekat. Menariknya lagi, setiap tokoh utama di bukunya terhubung satu sama lain, menciptakan benang merah yang rapi sekaligus memuaskan bagi pembaca setia. Seru, kan? Biar lebih asyik, boleh intip dulu ulasan singkat dari saya di bawah ini.
Summer in Seoul: Ponsel Tertukar Berujung Jadi Pacar
Membaca kembali novel ini mengingatkan saya akan masa muda. Entah sudah yang keberapa kali saya mengulang buku Summer in Seoul. Meskipun begitu, ceritanya tetap terasa menarik dan tidak membuat saya bosan.
Sebetulnya ide cerita novel ini sederhana saja. Kisah cinta antara seorang penyanyi muda bernama Jung Tae-woo, dengan seorang mahasiswi blasteran Korea-Indonesia yang sering disapa dengan nama Sandy. Mereka bertemu karena ponsel yang tertukar, lalu Tae-wo memintanya berpura-pura menjadi kekasihnya untuk menepis gosip yang menerpa dirinya. Dari situlah benih-benih cinta tumbuh di antara mereka.
Meskipun sederhana, namun cara Ilana Tan bercerita dalam buku pertama ini berhasil membuat saya larut dalam setiap emosi yang disampaikan. Apalagi adegan romantisnya. Hampir semuanya sukses membuat saya merasa hangat, bahkan senyum-senyum sendiri.
Autumn in Paris: Kisah Manis yang Berakhir Tragis
Autumn in Paris adalah buku kedua dari tetralogi 4 musim Ilana Tan. Buku ini bercerita tentang sepupu Sandy (Tokoh utama perempuan dalam buku Summer in Seoul) yang bernama Tara Dupont. Dia adalah seorang penyiar radio di kota Paris yang ceria, cerewet dan mudah penasaran.
Suatu hari dia bertemu dengan Tatsuya Fujisawa, seorang arsitek yang bekerja bersama salah satu sahabat Tara. Sejak awal pertemuannya itu Tatsuya berhasil membuat Tara merasa penasaran.
Waktu berjalan dan mereka pun menjadi dekat, bahkan saling jatuh cinta. Tatsuya yang pada awalnya membenci Paris dan musim gugur, perlahan mulai menyukai keduanya berkat Tara di sisinya. Sayangnya takdir tidak memihak mereka berdua. Jalinan takdir di antara mereka sungguh memilukan.
Bagi kalian penyuka genre melodrama, jangan lewatkan novel yang satu ini. Seperti novel Ilana Tan lainnya, novel ini pun diisi dengan kisah cinta yang sangat manis. Namun tetap siapkan tisu saat membacanya. Karena dijamin air mata kalian akan meleleh dibuatnya.
Bahkan saat menulis ini, saya masih bisa merasakan pahit manisnya cinta mereka. Sesak rasanya ðŸ˜
Winter in Tokyo: Hangatnya Cinta di Tengah Musim Dingin
Dalam buku ketiga tetralogi 4 musim ini, Ilana Tan membawa kita berjalan-jalan menikmati musim dingin di kota Tokyo. Meskipun begitu, hangatnya kisah kasih antara Ishida Keiko dan Nishimura Kazuto berhasil mengalahkan dingin yang menyusup hingga ke tulang. Hihihi… lebay amat yak review saya. Tapi beneran kok, seperti biasa, kisah cinta manis ala Ilana Tan selalu membuat hati pembaca merasa hangat.
Winter in Tokyo bercerita tentang Ishida Keiko, seorang gadis berdarah Jepang-Indonesia yang bekerja di sebuah perpustakaan. Pada suatu hari seorang pemuda bernama Nishimura Kazuto pindah ke apartemen yang ditinggali Keiko, tepatnya di kamar yang ada diseberang kamarnya. Kamar ini dulunya ditempati Tatsuya Fujisawa, tokoh utama dalam Autumn in Paris. Itulah benang merah antara buku ini dengan buku sebelumnya. Keiko adalah tetangga Tatsuya yang menemani Tara berkunjung ke apartemen laki-laki itu saat dia datang ke Tokyo di bagain akhir cerita.
Konflik dalam buku ini mengangkat kisah cinta pertama, cinta segitiga, yakuza, hingga amnesia. Seru, kan? Konflik seperti ini tidak asing bagi penggemar drama. Mungkin itulah yang membuat novel ini sukses hingga diangkat menjadi film layar lebar. Tapi saya belum menonton filmnya, sih.
Spring In London: Cinta yang Menyembuhkan Luka
Buku ini adalah buku terakhir dari tetralogi 4 musim Ilana Tan. Di sini dihadirkan dua tokoh yang sudah disebutkan pada buku sebelumnya, yaitu Naomi Ishida, kembaran Keiko dalam buku Winter in Tokyo serta Danny Jo (Jo In-ho), teman Jung Tae-woo, tokoh utama pria di buku Summer in Seoul.
Dalam buku Winter in Tokyo diceritakan bahwa Naomi Ishida tinggal di London karena mendapatkan pekerjaan di sana. Di London inilah dia bertemu dengan Danny Jo. Video musik untuk lagu terbaru Jung Tae-woo lah yang mempersatukan mereka sebagai model utama.
Saat pertama berjumpa dengan Danny Jo, Naomi merasa tidak nyaman karena pria yang satu itu mengingatkan akan masa lalunya yang kelam. Dimana kenangan itu membuatnya menutup diri dan merasa was-was kepada laki-laki manapun, kecuali Chris, teman satu flatnya. Namun kebaikan hati Danny berhasil membuat Naomi membuka hati dan mau berteman dengannya.
Kedekatan mereka terusik ketika muncul orang ketiga diantara mereka, dan semakin kacau saat Danny tahu trauma masa lalu yang menimpa Naomi. Apa yang terjadi selanjutnya? Apa hubungan mereka berjalan lancar dan berakhir indah? Baca sendiri ya kawan. Tidak seru tentunya kalau saya mendongeng di sini.
Sebagai penutup tetralogi 4 musim, Spring in London tidak kalah bagus dengan buku-buku lainnya.
Penutup: Recommended Banget untuk Weekend Read!
Selesai sudah nostalgia saya bersama tetralogi Empat Musim karya Ilana Tan. Empat kota, empat musim, dan empat kisah cinta manis dan saling terhubung. Meski sudah bertahun-tahun sejak pertama kali membacanya, pesona buku-buku ini tetap terasa sama, sederhana, romantis, dan menghangatkan hati.
Untuk kalian yang belum pernah membacanya, tetralogi ini sangat layak masuk daftar bacaan. Bagi yang sudah, mungkin inilah saatnya membuka kembali halaman-halamannya dan bernostalgia.
Buat kalian yang sudah pernah membaca novel-novel ini, mana yang kalian suka? Kalau saya sih suka semuanya, tapi favorit saya masih tetap Autumn in Paris.





