Sepuluh Tahun Menjadi Ibu: Pengalaman Melahirkan Pertama yang Tak Terlupakan
Catatan Kehidupan January 26, 2026Hari ini, tepat sepuluh tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya merasakan menjadi seorang ibu. Sebuah peran baru yang mengubah hidup saya selamanya. Waktu berjalan begitu cepat, tetapi ingatan tentang hari itu masih tersimpan rapi di kepala saya. Setiap kali tanggal ini datang, tubuh dan hati saya seperti otomatis mengingat kembali semuanya.
Setelah membaca cerita Mbak Dian Restu Agustina tentang enak mana persalinan normal atau caesar, saya jadi teringat bahwa saya belum pernah menuliskan pengalaman melahirkan anak pertama. Sebelumnya, saya sudah membagikan cerita tentang persalinan kedua dengan metode caesar. Kali ini, saya ingin bercerita tentang persalinan pertama saya dengan metode normal. Penasaran? Yuk, baca!
Pagi yang Mengubah Segalanya
Pagi itu saya hendak berwudhu ketika tiba-tiba, di kamar mandi, saya melihat ada darah keluar dari jalan lahir. Tidak banyak, tapi cukup membuat jantung saya langsung berdegup cepat. Saya segera kembali ke kamar untuk memberi tahu suami, lalu setelah mengobrol sejenak, dia pun mengajak saya ke rumah bersalin tempat biasa saya kontrol kehamilan.
Kami tiba di rumah bersalin sekitar pukul tujuh pagi. Hari masih sangat pagi dan bukan jadwal USG. Tidak ada dokter kandungan yang praktik hari itu, sehingga saya diperiksa oleh bidan. Dari pemeriksaan, bidan memberi tahu bahwa saya sudah bukaan tiga.
Baca juga: Drama Hamil Kembar di Usia 30-an
Setelah diperiksa, kami mengobrol dengan bidan untuk membahas berbagai kemungkinan. Setelah mempertimbangkan kondisi saya dan jarak tempuh, saya memutuskan untuk melahirkan di rumah bersalin tersebut.
Jujur saja, pagi itu saya merasa malas jika harus ke rumah sakit tempat praktik dokter kandungan saya. Hari itu hari Senin dan jam berangkat kerja. Saya bisa membayangkan macetnya jalanan yang mungkin harus dihadapi. Nggak kebayang kalau sampai kontraksi kuat, apalagi bukaan lengkap, di tengah kemacetan. Akhirnya kami sepakat untuk langsung “check-in”.
Kontraksi yang Perlahan Datang
Saya memilih kamar terbesar yang tersedia. Di dalamnya ada satu tempat tidur, satu sofa bed untuk pendamping, meja kecil, kursi, kamar mandi dalam dengan air dingin, sebuah box bayi, dan televisi. Kamar itu terasa cukup nyaman untuk menunggu proses yang entah akan berlangsung berapa lama.
Setelah meletakkan barang-barang, kontraksi masih belum begitu kuat. Saya pun mulai berjalan-jalan kecil di sekitar kamar dengan harapan bukaan bisa bertambah lebih cepat. Tak lama kemudian, sarapan datang. Kalau tidak salah, menu pagi itu adalah nasi goreng.
Saya makan di kamar sambil menonton televisi, ditemani suami yang duduk di samping saya. Suasana masih terasa cukup santai. Namun, di tengah makan, kontraksi mulai datang dan pergi. Awalnya masih bisa ditahan, tapi lama-lama nyerinya semakin jelas.
Ketika Nyeri Mulai Menguasai Tubuh
Saya memutuskan untuk berbaring. Suami dengan sabar menyuapi saya karena saya mulai kesulitan makan sendiri. Namun, nyeri terus meningkat. Setiap kontraksi datang dengan jarak yang semakin rapat dan rasa sakit yang semakin kuat. Akhirnya saya benar-benar tidak sanggup melanjutkan makan.
Saya mencengkeram lengan suami sambil menahan sakit yang datang bertubi-tubi. Setiap kontraksi terasa seperti perut saya diremas dan ditusuk-tusuk sekaligus. Dia duduk di kursi di samping tempat tidur, tetap tenang, sambil mengaji. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, kehadirannya memberi saya sedikit ketenangan.
Baca juga: Cerita Melahirkan Si Kembar di RSHS Bandung (Bagian 1)
Beberapa saat kemudian, mama mertua dan uwa—kakak dari mama mertua—datang. Mereka membawakan tas bersalin yang belum sempat saya bawa pagi tadi. Saat itu, rasa sakit sudah berada di titik yang membuat saya ingin menggigit sesuatu.
Dengan setengah putus asa saya berkata ke suami, “Aku boleh gigit lenganmu?”
Dia menatap saya dengan wajah bingung, lalu mengangguk. Namun mama dan uwa tentu saja langsung melarang. Sebagai gantinya, saya diberi kain untuk digigit. Situasinya sebenarnya cukup lucu jika diingat sekarang, tetapi saat itu saya benar-benar sudah tidak bisa tertawa.
Menuju Kamar bersalin
Kontraksi semakin lama semakin kuat. Saya mulai berteriak dan merintih tanpa bisa menahannya lagi. Mendengar suara saya yang terus meninggi, perawat akhirnya membawa saya ke kamar bersalin. Mungkin itu sekitar pukul setengah sebelas. Bidan kembali melakukan pemeriksaan dan memberi tahu bahwa bukaan saya sudah mencapai tujuh.
Setelah itu bidan meninggalkan saya bersama perawat yang dengan sabar mendampingi dan mendengarkan setiap keluhan saya tentang rasa sakit. Saya tetap berteriak dan merintih. Instruksi perawat untuk mengatur napas nyaris tidak saya hiraukan. Pikiran saya sudah tidak mampu menangkap apa pun selain rasa sakit. Rasa sakitnya terlalu besar untuk diimbangi pikiran yang jernih. Apalagi hasrat untuk mengejan juga mulai muncul tapi harus saya tahan.
Sekitar tengah hari, bidan kembali masuk. Setelah diperiksa, bukaan sudah lengkap dan air ketuban pun dipecahkan. Sayangnya, tenaga saya sudah terkuras habis untuk berteriak sejak tadi. Ditambah lagi, malam sebelumnya saya tidur dini hari. Tubuh saya benar-benar kelelahan. Saya tidak kuat mengejan. Berkali-kali mencoba, tetapi tetap belum berhasil.
Usaha Terakhir dan Tangis Pertama
Kurang lebih dua jam berlalu. Perawat menyarankan saya untuk makan dan minum teh manis agar tenaga kembali. Namun makan di tengah badai rasa sakit tentu bukan perkara mudah. Setiap suapan terasa seperti perjuangan. Belum lagi rasa kantuk yang semakin berat.
Waktu terus berjalan. Lebih dari tiga jam sejak ketuban dipecahkan, proses persalinan belum juga menunjukkan hasil. Akhirnya bidan senior sekaligus pemilik rumah bersalin ikut turun tangan. Berbagai posisi dicoba agar bayi bisa keluar. Sayangnya, hingga sore hampir usai, bayi belum juga berhasil saya lahirkan.
Dengan dibantu bidan yang sejak awal menangani saya, usaha terakhir pun dilakukan. Sebelumnya, suami diminta keluar ruangan. Setelah suami keluar, bidan senior memberi aba-aba dengan tegas.
Saya mengumpulkan sisa tenaga yang ada dan mengejan sekuat yang saya bisa. Satu bidan membantu dari bawah, sementara bidan lainnya duduk di atas kepala saya dan membantu menekan perut. Saya merasakan gunting bekerja di bawah sana. Tidak lama kemudian, suara tangis bayi memenuhi ruangan.
Baca juga: Cerita Melahirkan Si Kembar di RSHS Bandung (Bagian 2)
Detik itu juga, semua rasa sakit seperti runtuh begitu saja. Lega. Sangat lega. Bahkan proses menjahit di area bawah tidak begitu terasa. Masih kalah jauh dibanding sakitnya kontraksi.
Sayangnya, saat itu belum dilakukan Inisiasi Menyusu Dini. Bayi saya langsung dibawa untuk dibersihkan. Setelah beberapa saat, barulah si kecil yang sudah bersih diberikan kembali kepada saya untuk mencoba menyusu. Rasanya campur aduk, bahagia, lelah, sakit, sekaligus takjub dengan semua yang terjadi hari itu.
Selang beberapa menit, anak saya dibawa keluar ruangan. Sepertinya dia diantarkan kepada suami untuk diadzani. Dari cerita mama, mereka sempat kebingungan mencari suami. Ternyata suami saya tidak menunggu di depan ruang bersalin, melainkan kembali ke kamar dan menonton televisi. Katanya dia tegang, jadi mencari pengalihan. Hahaha… ada-ada saja.
Kembali Istirahat di Kamar Rawat
Setelah proses penjahitan selesai, saya diminta ke kamar mandi untuk buang air kecil. Saya tidak tahu kenapa harus begitu, tetapi saya menurut saja meskipun cukup kesusahan. Setelah itu, saya diantar kembali ke kamar. Di sana sudah ada suami, bayi saya, mama dan papa mertua, serta keluarga lainnya.
Papa mertua membawakan nasi goreng Karmino, makanan kesukaan saya. Rasa lapar akhirnya benar-benar terasa. Saya makan dengan lahap, disuapi oleh suami. Sementara itu, anak saya tidur lelap di dalam box bayi.
![]() |
| Foto pertama saya bersama si kecil (Sumber: Dokumentasi pribadi diedit pakai AI) |
Malam itu saya tidak bisa tidur. Bukan karena tidak mengantuk, justru sangat mengantuk. Namun nyeri ambien membuat saya terjaga dan baru bisa tidur sekitar pukul dua dini hari. Suami sudah tertidur pulas di sofa bed sejak pukul sepuluh malam, sementara bayi tidur di ruang bayi, bukan di kamar saya.
Hari Kepulangan yang Terasa Cepat
Keesokan paginya saya dibangunkan untuk mandi pagi. Karena kamar mandi tidak menyediakan air hangat, saya disiapkan air hangat di dalam ember. Maklum, ini memang bukan rumah bersalin mewah.
Setelah saya mandi, suami izin pulang sebentar untuk meminta papa menjemput menggunakan mobil karena ternyata hari itu saya sudah diperbolehkan pulang. Saya sempat mengira masih harus menginap beberapa hari lagi, ternyata tidak perlu.
Oh ya, setelah suami pulang, sepupu suami sempat datang membawakan pembalut khusus bersalin. Saya baru tahu ada pembalut seperti itu karena saat itu saya masih menggunakan pembalut biasa. Hahaha…
Tak lama setelah sepupu suami pulang, bayi saya diantarkan ke kamar dalam keadaan sudah mandi dan bersih. Awalnya ia diletakkan di box bayi, tapi kemudian, ia menangis. Akhirnya, untuk pertama kalinya, saya belajar menggendong bayi. Saya mengangkatnya ke kasur, dan ternyata ia buang air kecil.
![]() |
| Foto si kecil sebelum pulang (Sumber: Dokumentasi pribadi diedit dengan AI) |
Sempat terpikir memanggil perawat untuk membantu mengganti popok, tapi entah kenapa saya sungkan. Akhirnya saya mencoba mengganti sendiri. Pengalaman pertama tentu saja penuh kebingungan, apalagi masih menggunakan popok kain. Alhamdulillah, akhirnya bisa juga.
Sekitar pukul sepuluh pagi, suami datang bersama papa menggunakan mobil. Setelah urusan administrasi dan pembayaran selesai, saya pun pulang ke rumah. Sekitar dua jam setelah saya sampai, ibu datang dari Malang dan menginap semalam. Malam pertama di rumah terasa lebih aman karena ada ibu yang menemani.
Malam berikutnya, saya harus tidur sendiri karena suami tiba-tiba flu dan tidur di kamar lain. Mungkin kelelahan, dan memang saat itu sedang musim flu. Akhir Januari, hujan turun hampir setiap hari. Sama seperti beberapa hari kemarin, bukan?
Penutup: Sepuluh Tahun Telah Berlalu
Hari ini tidak ada perayaan apa pun. Tidak ada pesta dan kue ulang tahun. Kue sudah dibeli minggu lalu bersamaan dengan ulang tahun adiknya. Si sulung hanya meminta pizza untuk dimakan di rumah. Akhirnya saya memesan dua loyang pizza ukuran medium.
Ada satu kejadian lucu. Saat pizza datang, tertulis ucapan, “Happy Birthday Bu Asri.” Padahal yang berulang tahun adalah anak saya. Saya juga tidak menuliskan catatan apa pun saat memesan.
![]() |
| Tulisan di atas kotak pizza (Sumber: Dokumentasi pribadi) |
Saya dan si sulung tertawa membaca tulisan itu. Mungkin itu pengingat kecil bahwa sepuluh tahun lalu, yang lahir ke dunia bukan hanya seorang anak, tetapi juga seorang ibu.
Bandung, 25 Januari 2026
23.50 WIB








































